Ingin Anak Anda Memiliki Kecerdasan Finansial, Hindari Kesalahan Ini

Pembelajaran kecerdasan finansial keliru yang diterima saat orang tua kecil, tidaklah perlu diulang kembali. Juga, kesalahan yang dilakukan oleh orang tua karena minimnya informasi pembelajaran kecerdasan finansial untuk anak, harus diubah. Diperlukan motivasi orang tua untuk mau mengubah kesalahan-kesalahannya selama ini. Secara umum, kesalahan-kesalahan yang masih banyak dilakukan orang tua dalam menyampaikan pembelajaran kecerdasan tentang finansial/keuangan, yaitu antara lain:

1. Kurang menyampaikan alasan yang cukup untuk bisa dipahami anak
Salah, jika orang tua menganggap anak hanyalah seorang individu bodoh yang hanya cukup menerima perintah dari orang tua saja. Sesungguhnya, di balik kesederhanaan otak anak, mereka pun memiliki harga diri, memiliki keinginan pribadi dan juga butuh untuk mengembangkan pemikirannya. Anak akan sangat merasa dihargai, ketika orang-orang dewasa mau mendengarkan pendapatnya. Juga mau mengajaknya dialog.

Jangan bunda sekadar mengatakan, Tak ada uang, ketika menolak permintaan anak, tetapi sampaikan juga alasannya. Seperti, Kita tidak bisa membeli tas baru hanya karena modelnya yang cantik, Sayang. Tasmu belum rusak, kan? Atau dengan alasan lain ketika anak merengek meminta mainan,Sekarang belum saatnya membeli mainan, karena ade baru membeli mainan dua pekan lalu.

Ingin Anak Anda Memiliki Kecerdasan Finansial, Hindari Kesalahan Ini
Ingin Anak Anda Memiliki Kecerdasan Finansial, Hindari Kesalahan Ini

2. Menganggap anak memiliki cara berpikir yang sama dengan orang dewasa
Orang tua masih kerap lupa bahwa cara berpikir anak jauh berbeda dengan cara berpikir orang dewasa, sehingga orang tua harus lebih berhati-hati menanggapi usulan dan pendapat anak. Karena pola pikir mereka masih egosentris, maka selayaknya orang tua bisa memahami jika di usia mereka yang masih balita, mereka cenderung ingin membelanjakan habis uang yang ada di tangannya. Inilah yang akan terjadi ketika ibu membiarkan anak pergi sendiri ke toko dengan membawa uang dalam jumlah besar, tanpa ibu berikan rambu-rambu kepada anak, barang apa saja yang boleh mereka beli. Hanya saja, ketika anak pulang tanpa membawa uang kembalian, meledaklah kemarahan ibu.

Untuk menghindari kesalahan ini, tak ada jalan lain kecuali ibu mempelajari pengetahuan mengenai perkembangan anak secara psikologis. Dan bagaimana kaitannya dengan pembelajaran kecerdasan finansial sesuai usia anak tersebut.

3. Hanya mengajarkan membelanjakan uang, bukan mengelola uang
Perbedaan antara istilah membelanjakan dengan mengelola adalah terletak pada kemampuan menukarkannya dengan barang yang lebih bermanfaat, lebih prioritas, serta lebih berkualitas. Ibu hanya cukup memberikan selembar uang lima ribuan kepada si- anak sambil memberikan instruksi, Belikan satu balpoin dan sisanya belikan kue untuk bekal sekolah. Dengan instruksi seperti ini, anak cukup mudah melaksanakannya.

Namun jika orang tua ingin anak memiliki kemampuan mengelola uang, bukan sekadar membelanjakan, maka orang tua bisa mengawalinya dengan mengajak anak mendaftar kebutuhan dan keinginan-keinginannya, yang biasanya jauh lebih besar daripada apa yang bisa dibeli dengan uang lima ribu rupiah. Ajak anak mempertimbangkan manfaat satu barang dengan barang yang lain dari daftar tersebut, dan dipilah-pilah mana yang mendesak harus segera dibeli dan mana yang masih bisa ditunda. Ajarkan kepada anak, bahwa jika untuk satu barang ia mau memilih harga yang lebih rendah, maka berarti ia bisa memperoleh barang lain lebih banyak, atau dengan kualitas yang lebih baik.

4. Mencontohkan gaya belanja kurang sehat di depan anak
Seorang ibu yang memiliki kegemaran jajan dan kerap menghentikan sebagian besar pedagang yang lewat di depan rumah, akan menjadi contoh yang kurang baik bagi anak. Lewat penjual bakso, dipanggil. Besoknya ganti lewatlah pedagang siomay, dipanggil pula. Demikian setiap hari, seperti tak ada hari tanpa jajan ini dan itu.

Kadangkala orang tua sendiri juga belum bisa memberi contoh yang baik ketika pergi ke pasar,tetapi akhirnya membeli barang yang tidak sesuai dengan rencana semula, hanya karena tergoda banyaknya ikian, kuis serta pemberian hadiah.

Akhirnya harus dipahami bahwa semua sumber keberhasilan pendidikan kembali kepada peran orang tua. Kesalahan-kesalahan yang masih dilakukan orang tua, baik sadar ataupun tanpa disadari, harus dievaluasi dan diupayakan supaya tidak diulangi. Bagaimana pun, cara belajar anak yang paling utama adalah melalui keteladanan. Maka, sepanjang orang tua belum nriampu memberikan contoh dan keteladanan yang baik, maka kecil kemungkinan anak akan bisa tumbuh sesuai harapan orang tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.