Anda, bila sebagai orang tua, pernah anak Anda begitu sangat senangnya bila bermain di luar ruang dengan lingkungan alam yang asri, misalnya kebun atau area persawahan. Nah, Anak-anak dengan kecerdasan alam atau naturalis cenderung senang berada di tengah lingkungan yang alami. Mereka sangat menikmati dan memiliki kedekatan dengan alam.
Bergaul Dengan Alam
Kecerdasan naturalis adalah kemampuan menganalisis, mengenali, mengategorikan, mengingat, atau menguasai pengetahuan mengenai lingkungan alam. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap semua varietas flora dan fauna, fenomena alam seperti proses terjadinya awan, pelangi, hujan, atau gempa.

Kemudian, mengenai tata surya yang mencakup planet, galaksi, matahari, bintang dan bulan. Demikian pula dengan dunia laut beserta isinya, pegunungan, bahan galian atau batu-batuan dan lainnya. Juga mengenai artefak atau simbol-simbol budaya seperti patung atau area. Yang pasti, anak-anak cerdas naturalis ini mampu beradaptasi dan mengeskplorasi lingkungan alam di mana pun dia tinggal.
Berkaitan Dengan Otak Kiri
Menurut Leslie Owen Wilson dalam bukunya dengan judul The Eighth Intelligence: Naturalistic Intelligence, tahun 2000, kecerdasan naturalis berkaitan dengan wilayah otak kiri. Yaitu yang berhubungan dengan kepekaan terhadap pengenalan bentuk atau pola, kepekaan terhadap persepsi sensorik, serta kemampuan dalam mengklasifikasikan sesuatu atau menandai berbagai naturalis berkaitan dengan wilayah otak kiri. Yaitu yang berhubungan dengan kepekaan terhadap pengenalan bentuk atau pola, kepekaan terhadap persepsi sensorik, serta kemampuan dalam mengklasifikasikan sesuatu atau menandai berbagai kesamaan ataupun perbedaan di sekitarnya.
Anak yang kecerdasan alamnya menonjol, memiliki tingkat perkembangan yang tinggi pada kemampuan matematis dan analitis dibanding anak-anak lainnya. Contoh, anak tertarik pada pola fenomena alam seperti bila cuaca mendung maka kemungkinan bakal turun hujan. Atau mengenai sistematika tata surya seperti peredaran matahari serta planet-planet yang begitu teratur bergerak dalam orbitnya.
Otak Kanan Pun Berperan
Di sisi lain, sebenarnya kecerdasan alam juga berkaitan dengan perkembangan kemampuan otak kanan. Misal, anak yang tertarik atau senang terhadap kupu-kupu karena keindahan warna dan bentuknya. Atau para pecinta alam sangat menyukai menjelalahi pegunungan karena begitu terkesan akan keindahannya. Dengan kata lain, cerdas alam juga berarti menandakan berkembangnya kemampuan otak kanan yang notabene salah satunya berkaitan dengan seni atau keindahan.
Hal yang perlu ditelusuri, apakah kecerdasan naturalis sang anak berkembang karena kemampuan bagian otak kiri yang dominan ataukah kanan atau bahkan keduanya? Jadi, mungkin saja anak tidak hanya memiliki kemampuan memersepsi atau menganalisis lingkungan alam, tapi juga memiliki cita rasa keindahan terhadap alam, termasuk berempati bagaimana menyikapi lingkungan, punya rasa sayang yang tinggi terhadap binatang dan lainnya.
Bergantung Stimulasi
Sama seperti jenis kecerdasan yang lain, rangsangan merupakan peranan yang penting. Walaupun seorang anak dilahirkan di daerah yang banyak terdapat unsur alam, seperti pantai, pegunungan, dan lainnya , tetapi jika orang tua tidak rajin menstimulasinya, maka kecerdasan naturalisnya tidak akan berkembang. Sebaliknya, anak yang lahir di perkotaan boleh dibilang minim pengenalan unsur alamnya. Namun karena orang tuanya rajin menstimulasi, semisal dengan mengajaknya ke kebun binatang, kebun raya dan lainnya, tentu kecerdasan naturalisnya dapat berkembang.
Orang Tua Tidak Harus Ahli Alam
Jelaslah betapa faktor stimulasi sangat berpengaruh terhadap optimalisasi perkembangan kecerdasan ini. Tentunya, ibu atau ayah tidak perlu menjadi seorang ahli ilmu alam terlebih dahulu untuk mengembangkan potensi kecerdasan alam si kecil. Yang jelas, lingkungan alam sekitar merupakan alat stimulasi bagi anak-anak. Mereka akan mendapatkan gambaran alam sesuai dengan pandangan dan pengalamannya melalui panca indranya. Di tingkat yang lebih jauh, ketertarikan pada alam akan menciptakan anak merasa tertarik untuk meneliti alam.
Karakteristik Cerdas Alam
Bila si kecil memiliki ciri-ciri di bawah ini, bisa dikatakan ia memiliki kecerdasan naturalis yang menonjol:
1. Sangat tertarik dengan berbagai aktivitas yang dilaksanakan di luar ruangan atau rumah. Begitu pun dengan sistem pembelajaran di sekolah, ia akan lebih menyenangi bila kegiatan belajar dilaksanakan di luar ruang kelas dengan mengobservasi alam.
2. Senang bermain di kebun, taman, serta dengan berbagai hewan piaraan seperti kucing, ikan, anjing, burung, hamster, kelinci, dll.
3. Sering mempertanyakan berbagai gejala alam, sperti mengenai bencana alam tsunami, bencana alam gempa bumi, dll.
4. Menyukai aktivitas berkemah, memancing, hiking, dan kegiatan rekreasi lain yang berhubungan dengan alam seperti laut, pantai, hutan, dan lainnya.
5. Senang mengoleksi berbagai benda dari alam, seperti bebatuan, dan lainnya.
Bagaimana Mendeteksinya?
Usia 0-3 Tahun
Sulit dideteksi. Masalahnya, di tahapan usia ini tingkah polah atau perllaku anak masih tergolong seragam. Contoh, mereka suka bermain tanah, air, atau pasir, memperhatikan kucing, semut, dan lainnya. Bermain atau mengamati lingkungan merupakan hal yang menyenangkan bagi mereka. Dengan kata lain, di usia ini, anak-anak berada pada tahap eksplorasi atau rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka menyukai apa pun, termasuk mengenai unsur-unsur alam atau makhluk hidup lain di sekitarnya. Karena itulah, di usia 0-3 tahun belum dapat disimpulkan apakah seorang anak cerdas naturalis atau tidak.
Usia 3-4 Tahun
Umumnya di usia inilah baru mulai terlihat kecenderungannya pada kecerdasan yang mana. Apakah dia sangat senang mengamati binatang bahkan sampai hal-hal yang paling detail sekalipun? Misal, memperhatikan dan mempertanyakan kenapa semut selalu berbarls teratur dan selalu bersalaman setiap bertemu dengan semut lainnya.
Usia 6-8 Tahun (Awal SD)
Cerdas alam akan lebih terdeteksi lagi ketika anak mulai memasuki usia SD. Misal, anak sangat tertarik pelajaran mengenai flora & fauna. Dia akan senang sekali bila diajak mengamati pohon, bunga, atau tumbuhan serta lainnya.
Usia 12-13 Tahun
Masuk usia ini dan seterusnya, potensi cerdas alam akan tampak lebih jelas lagi. Anak makin terfokus pada hal-hal yang dianggapnya sangat berkesan, menarik dan ingin diketahuinya lebih jauh. Umpama, anak lebih suka mengamati fenomena alam, senang meneliti siklus pertumbuhan kupu-kupu, dan lainnya . Di usia ini, kecerdasan naturalis sifatnya lebih pada pengembangan potensi. Anak akan lebih terkonsentrasi pada minatnya masing-masing. Disinilah sebenarnya waktu yang tepat untuk lebih mengeksplorasi kecerdasan alam sang buah hati.


