Kecerdasan finansial yang matang tidak bisa berdiri dan berkembang sendiri. Membutuhkan dukungan dari berbagai sisi lain, antara lain dari sisi sosial. Jika tanpa memerhatikan sisi sosial, bisa saja seseorang menjadi cerdas finansial, namun kecerdasan tersebut tak akan memberikan nilai-nilai sosial yang baik bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungannya.
Tuhan telah dengan sempurna menciptakan sebuah hubungan manis antara kepemilikan dengan sedekah, yaitu bahwa dalam setiap harta yang kita punya, ada hak orang-orang yang tidak mampu atau miskin. Jadi, tidak seluruh harta kita bisa kita manfaatkan tetapi ada sebagian yang memang harus disisihkan terlebih dahulu untuk orang lain.
Namun, mengajarkan anak untuk menyisihkan, tidak mudah untuk dilakukan. Apalagi, ini menentang naluri egosentrisme yang masih menguasai diri mereka. Sehingga, orang tua harus lebih serius menangani hal ini.

Memahamkan Semua Milik Tuhan
Inilah langkah pertama yang bisa dilakukan orang tua dengan memahamkan bahwa sesungguhnya semua adalah milik Tuhan. Maka ketika kakak dan adik sampai bertengkar mulut gara-gara berebut oleh-oleh, misalnya, beri komentar, Buat apa berebut? Semuanya punya Tuhan, kok.
Atau ketika kakak tidak mau meminjamkan mainannya kepada adik, bunda bisa menegur dengan komentar, Kakak, mainan itu kan milik Tuhan. Kita cuma dititipkan saja. Jadi, ada hak orang lain untuk pinjam di situ.
Juga ketika kakak setelah mendapatkan hadiah uang yang cukup besar dari Kakek, hendak mendekati abang penjual mainan. Orang tua menyempatkan untuk mengingatkan, Sayang, ingat jangan dihabiskan uangnya, ya. Harus dikeluarkan dulu yang bukan hakmu. Kan uangnya hanya titipan Tuhan.
Makin sering kita menanamkan pengertian ini, anak akan lebih mudah mengerti tentang konsep kepemilikan dengan benar. Belum tentu persoalan ini akan bisa cepat berhasil, kadang kala memerlukan waktu berbulan-bulan hingga anak betul-betui faham dengan baik.
Membiasakan Memberi dan Sedekah
Mengajarkan sedekah kepada anak tidak terlalu sulit dilakukan jika pemahaman konsep kepemilikan harta telah dipahami dengan baik oleh anak. Sebaliknya, jika anak masih terbelenggu dengan pemahaman bahwa ia berhak mengatur seratus persen uangnya, maka sisi sosial ini tak akan tumbuh dalam jiwanya.
Memberikan teladan adalah cara terbaik mengajarkan sedekah kepada anak. Ajaklah anak menghitung uang yang ada dalam dompet bunda kemudian minta mereka memperkirakan, berapa jumlah yang pantas untuk disisihkan untuk sedekah sampaikan bahwa hak orang lain harus disisihkan.
Beri kesempatan anak untuk menyerahkan uang sedekah tersebut langsung kepada orang yang membutuhkan, seperti pengemis anak jalanan dan pengamen. Biarkan anak merasa bangga dengan sedekah tersebut, supaya menumbuhkan motivasi bagi dirinya untuk kembali melakukannya di kesempatan yang lain.
Tahap selanjutnya, ajarkan agar anak mau bersedekah dari uang miliknya sendiri. Bisa Jadi dari uang saku harian atau mingguannya, atau dari uang hadiah pemberian nenek, misalnya. Beri penjelasan bahwa jika anak bersedekah dengan mengambil uang dari dompet orang tua, berarti yang bersedekah tetap orang tua. Pahalanya pun nanti untuk orang tua. Tetapi jika mereka menyisihkan uang sedekah dari uang mereka sendiri, maka pahalanya adalah untuk mereka.
Biasakan anak memberi sedekah, walau dengan jumlah yang minim, mengingat uang yang mereka miliki pun belum seberapa banyak. Beri penghargaan kepada anakketika mereka mau bersedekah, walau sekecil apapun jumlahnya, baik dengan pujian, ciuman, pelukan, atau sekadar komentar positif.


