Perbedaan antara Imbalan dan Hadiah yang Perlu Anak Ketahui

Setiap anak ada anak yang mungkin merasa cuek saja ketika diberikan uang oleh orang tuanya. Namun, ada anak yang mungkin merasa sangat puas dengan uang yang diterima dari orang tuanya. Untuk menghindari berbagai efek negatif tersebut, ada baiknya orang tua mempertimbangkan kembali bagaimana pesan yang diterima oleh anak ketika diberikan hadiah atau imbalan berupa uang tunai.

Imbalan

Dua hal yang membedakan antara hadiah dan imbalan. Imbalan dikaitkan dengan suatu hal yang dilakukan oleh anak dan dijanjikan oleh orang tua. Memberikan imbalan berupa uang kepada anak sebaiknya dilakukan secara selektif. Kita bedakan dulu antara pekerjaan rutin dan sudah menjadi kewajiban anak, serta pekerjaan yang sifatnya tambahan.

Untuk pekerjaan yang seharusnya rutin dilakukan oleh seorang anak, bahkan sudah menjadi kewajibannya sebaiknya anak tidak diberikan imbalan, apalagi imbalan berupa uang tunai. Semisalnya saja mengerjakan PR dengan baik, membersihkan kamar sendiri, menjalankan praktik ibadah sesuai kemampuan si anak.

Perbedaan antara Imbalan dan Hadiah yang Perlu Anak Ketahui
Perbedaan antara Imbalan dan Hadiah yang Perlu Anak Ketahui

Kalaupun orang tua selama ini sudah terlanjur melakukan hal atau anak sudah terlanjur terbiasa, perlu dilakukan perubahan. Yang dapat dilakukan adalah mengalihkan imbalan dari uang tunai menjadi uang yang tidak tunai. Misalnya, yang biasanya diberikan beberapa lembar uang tunai sekaligus, bisa kita alihkan menjadi uang tunai langsung dimasukkan dalam celengannya. Atau uang langsung kita masukkan ke dalam rekening tabungan si anak jika sudah memiliki rekening tabungan. Tentu saja hal ini harus juga dijelaskan dan ditegaskan ketika mencapai perjanjian dengan anak, Kalau adik puasa satu hari penuh Bunda akan tambahkan isi celengan adik Rp 5.000 ya.

Sedangkan untuk pekerjaan yang sifatnya tambahan saja bagi anak misal pekerjaan rumah tangga yang tidak rutin, tidak mengapa untuk memberikan imbalan berupa uang kepada anak. Misalnya saja mempercantik r umah menyambut hari raya, membersihkan gudang, membersihkan kebun, dsb.

Imbalan yang diberikan dapat berupa uang tunai yang diberikan oleh orang tua. Atau bisa juga berupa hasil dari pekerjaan yang dilakukannya. Misalnya saja, pekerjaan membersihkan gudang.Setelah dibersihkan dan dirapikan, orang tua dapat membawa anak ke tempat penjualan barang loak untuk menjual barang-barang yang masih bisa dijual seperti botol bekas, kardus, atau koran. Nah, hasil penjualan ini dapat diberikan kepada anak.

Dengan cara seperti ini, selain mengajarkan anak tentang kebersihan, anak juga akan belajar hal baru. Yaitu menghasilkan uang dari keringatnya sendiri. Anak juga belajar untuk melihat peluang, bahwa barang-barang bekas pun masih ada harganya.

Hadiah

Hadiah memiliki sifat yang lebih fleksibel daripada imbalan, karena hadiah tidak dikaitkan langsung dengan pekerjaan anak dan biasanya juga tidak dijanjikan terlebih dahulu. Kalaupun dijanjikan, hanya sepihak saja dari orang tua, bukan hasil kesepakatan dengan anak. Fungsi hadiah lebih kepada salah satu cara untuk menunjukkan kasih sayang dan perhatian.

Karena tidak ada perjanjian sebelumnya dan tidak mengaitkan dengan pekerjaan anak, maka hadiah tidak memberikan efek transaksi seperti halnya imbalan. Namun, pemberian hadiah berupa uang tunai juga bisa tetap memberikan efek cepat puas pada anak. Karena uang tunai memang bisa habis dibelanjakan dengan mudah.

Kalaupun orang tua ingin memberikan hadiah berupa uang tunai, tidak mengapa. Karena orang tua mungkin sesekali ingin memberikan kebebasan kepada anak untuk menentukan sendiri akan diapakan uang tersebut. Namun tentunya, orang tua bisa tetap memberikan panduan pada anak agar uang tersebut digunakan dengan sebaik-baiknya.

Orang tua dapat saja memberikan pesan bahwa hadiah uang ini hanya boleh untuk membeli barang- barang tertentu. Misalnya, hanya untuk membeli buku, mainan yang mendidik, atau benda yang memang sudah lama diidamkan oleh anak dan tidak untuk jajan sembarangan.

Tidak ada salahnya juga orang tua memberikan nilai lebih dari hadiah uang yang diberikan pada anak. Misalnya saja, memberikan hadiah sambil mengajarkan anak tentang investasi.

Untuk anak usia SD, orang tua bisa memberikan hadiah berupa celengan yang sudah ada isinya, sehingga anak tinggal meneruskan untuk mengisinya saja. Anak- anak seringkali memiliki jangka waktu berfikir yang lebih pendek,anak bisa saja kurang sabar kalau harus menunggu celengannya sampai penuh. Untuk itu, memberikan celengan yang sudali separuh terisi bisa memberi motivasi anak untuk segera mengisinya sampai penuh.

Atau bisa juga memberikan hadiah berupa anak ayam, lengkap dengan kandang dan makanannya. Jika anak-anak ayam itu dipelihara dengan baik, maka sudah bisa besar dan siap dijual dalam waktu satu bulan. Orang tua bisa membeli ayam tersebut dari anak jika sudah siap, atau akan lebih baik lagi jika mengantar anak ke pasar untuk menjualnya. Dengan cara ini, anak bisa belajar untuk berbisnis sedari kecil.

Untuk anak usia SMP-SMA, orang tua bisa memberikan anak berupa sertifikat deposito, cek perjalanan, atau emas batangan. Dengan memberikan hadiah yang unik seperti ini, anak akan belajar banyak hal, Belajar tentang investasi, belajar untuk menunda keinginan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besardi masa depan, dan tentunya menjadi pengalaman yang sangat berharga karena hadiahnya sangat istimewa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.