Ini yang Diperlukan dalam Pengenalan Tentang Uang kepada Anak

Pembelajaran tentang proses jual beli dan mengenalkan fungsi uang sebagai alat tukar, umumnya berlangsung sesuai dengan proses perkembangan sosial anak yang sudah mulai memiliki keinginan terhadap barang-barang yang dijual di depan rumahnya. Di sekitar usia satu hingga dua tahunan, anak sudah mulai memerhatikan, ketika orang-orang dewasa bisa menukarkan selembar kertas tertentu dan mendapatkan berbagai macam barang sebagai gantinya. Kertas-kertas itu disebut sebagai uang. Hingga saat ini anak sudah mulai memahami bahwa benda tersebut bisa ditukar dengan kue dan permen.

Membedakan Jenis Uang

Perlahan, anak akan semakin meningkat pengetahuannya, bahwa ada berbagai jenis uang dan masing- masing memiliki nilai yang berbeda, sehingga barang yang bisa ditukarkan dengannya pun berbeda-beda. Anak mulai paham ketika uang yang dibawanya ke warung ternyata beium tentu bisa ditukar dengan setiap jenis makanan yang diinginkannya, dengan alasan yang diberikan pemilik warung, ‘Uangnya kurang nih, Nak’.

Ini yang Diperlukan dalam Pengenalan Tentang Uang kepada Anak
Ini yang Diperlukan dalam Pengenalan Tentang Uang kepada Anak

Maka di usia tiga tahunan mulailah anak berusaha mengerti, jenis uang apa yang dibawanya ke warung. Ia pun berusaha menghafalkan benda-benda apa saja yang bisa ia peroleh dengan masing-masing jenis uang tersebut Kalau uang warna biru yang dibawanya, nnaka ia bisa mendapatkan snack-snack dalam bungkusan ukuran kecil. Tetapi jika uang coklat muda yang ia miliki, ia bisa membeli snack rasa keju kegemarannya, atau bisa untuk membeli sebuah mobil mungil dalam bungkusan plastik sederhana yang dijual abang penjual mainan yang selalu lewat di depan rumah.

Di usia tiga tahunan ini, orang tua sudah bisa memulai mengajarkan transaksi jual beli yang benar kepada anak. Misalkan dengan cara mengajak anak pergi ke warung atau memanggil penjual makanan serta mainan yang lewat depan rumah, dan mempraktikkan proses jual beli tersebut.

Orang tua bisa memulai pelajaran dengan menunjukkan perbedaan nilai dari beberapa jenis lembaran uang kertas. Yang warna biru bergambar Pattimura nilainya seribu rupiah, bisa dipergunakan untuk membeli teh gelas, pisang goreng, es mambo, atau mainan mobil-mobilan plastik satu warna. Sementara yang warna coklat muda bergambar orang yang sedang menenun memiliki nilai lima ribu rupiah, bisa dipergunakan untuk membeli jepit rambut kupu, mainan kartu, mobil-mobilan, robot dan sebagainya.

Pembelajaran ini tampaknya sederhana, namun akan menjadi sangat berarti bagi anak, ketika orang tua tidak sekadar mengajarkan hafalan akan nilai lembaran-lembaran uang tersebut. Namun sekaligus juga mengajarkan anak untuk mengambil kebijakan yang tepat jika uangnya tidak mencukupi untuk membeli barang yang diinginkan.

Ketika uang yang dimiliki anak tidak cukup untuk membeli mobil-mobilan berukuran besar di abang penjual mainan, bunda bisa menghiburnya, ‘Uangmu belum cukup untuk membeli mobil-mobilan yang besar. Sekarang, kita beli yang kecil saja. Modelnya keren lho. Pasti jalannya lebih lincah daripada yang besar, kan? Sambil kita kumpulkan uang, minggu depan uangmu pasti cukup untuk membeli mobil yang besar itu.’

Kebijakan Memilih yang Murah atau yang Mahal

Sementara di usia empat tahun, anak akan meningkatkan pengetahuannya dengan kemampuan membedakan harga, mana yang disebut murah dan mana yang disebut mahal. Dengan pemahamannya yang sederhana mereka mulai sering bertanya, ‘Satu juta itu mahal, ya Bunda?’ Atau, ‘Bunda punya uang satu juta kan, untuk beli play station?’

Karena keterbatasan pemahaman anak, kadangkala pertanyaan-pertanyaan anak terkesan konyol dan mengada-ada sehingga membuat orang tua malas menjawabnya. Sebaiknya orang tua berusaha mencoba mengerti persepsi anak yang memang masih sangat sederhana, yang belum memahami nilai uang satu juta, tetapi sudah sering mendengamya melalui berbagai berita dan pembicaraan yang tertangkap oleh telinga mereka sehari-hari.

Akan sangat baik jika orang tua mau menyempatkan diri mengajak anak untuk membeda-bedakan harga satu barang dengan barang yang lain, ketika belanja bulanan di swalayan, misalnya, ajak anak untuk mengerti mana kelompok barang-barang yang berharga di bawah sepuluh ribu rupiah, di bawah seratus ribu rupiah, dan tunjukkan pula mana benda yang harganya mencapai kisaran jutaan rupiah. Ajarkan pula untuk memilih barang berdasarkan pertimbangan murah atau mahal harganya. Ketika anak membutuhkan membeli tempat makanan untuk bekal sekolah, tunjukkan beberapa alternatif barang dengan beberapa alternative harga berbeda. Ajak anak mempertimbangkan. harga mana yang dipilih, dengan alasan-alasannya rnasing-masing. Kebiasaan mempertimbangkan seperti ini akan menumbuhkan kebiasaan selektif pada diri anak. Sehingga anak lebih teliti dalam perbandingan antara harga dangan manfaat dan kualitas barang tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.